Arsip Berita Pengadilan

KULTUM RAMADHAN HARI KE-16
“IKHLAS DALAM BERAMAL”

 KULTUM 16 1

Foto: PPNPN PA Kuala Pembuang saat menyampaikan Kultum Ramadhan
di Mushalla PA Kuala Pembuang (28/04/2021)

Kuala Pembuang│pa-kualapembuang.go.id

KUALA PEMBUANG - Rabu, 28 April 2021.  Memasuki hari ke-16 bulan Ramadhan 1442 Hiriyah, sebagaimana rangkaian Kegiatan Amaliah Ramadhan pada hari sebelumnya, setelah selesai melakukan shalat Dzuhur berjamaah dilanjutkan kegiatan Kultum Ramadhan. Dalam kesempatan tersebut, yang bertugas memberikan kultum sesuai jadwal yang telah ditentukan adalah Khamarullah, S.H., PPNPN PA Kuala Pembuang dengan topik tentang ikhlas dalam beramal.

Mengawali kultum, Khamarullah menyampaian bahwa dalam melaksanakan ibadah kita harus berlandasan pada ketulusan serta rasa ikhlas. Ikhlas ialah suatu sikap dan perbuatan yang di lakukan oleh seorang hamba hanya demi dan karena Allah SWT semata, tanpa mengharapkan imbalan dan pujian dari orang lain.

KULTUM 16 2

Foto: Pegawai PA Kuala Pembuang saat mengikuti Kultum hari ke-16 Ramadhan (28/04/2021)

Kemudian Khamarullah menjelaskan bahwa salah satu ibadah yang mengajarkan kita untuk ikhlas adalah puasa, karena hanya kita dan Allah SWT yang tahu. Selain puasa, ibadah lain yang juga mengajarkan kita untuk ikhlas adalah sedekah secara sirri atau sedekah secara diam-diam. “Apabila kita bersedekah secara langsung dan orang yang menerima sedekah kita lantas berterimakasih dan memuji kebaikan kita, hal itu bisa menimbulkan rasa riya’ atau pamer dalam diri kita”, ujarnya.

Lebih lanjut, Khamarullah mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 264 yang menggambarkan bahwa amal yang didasari riya’ itu bagaikan batu licin yang diatasnya ada debu kemudian dijatuhi oleh hujan, maka yang tersisa hanyalah batu licin itu lagi. Artinya apapun ibadah yang kita lakukan akan sia-sia dikarena adanya rasa riya tersebut. Senada dengan gambaran tersebut, Yusuf bin Husain Ar Razi mengatakan bahwa sesuatu yang paling sulit di dunia adalah ikhlas. Aku sudah bersungguh-sungguh untuk menghilangkan riya’ dari hatiku, tetapi seolah-olah riya’ timbul kembali dengan corak warna yang lain.

Diakhir kultum, pria lulusan IAIN Palangka Raya tersebut menukil sebuah ungkapan dalam tausyiah dari KH. Buya Syakur Yasin, beliau berkata bahwa riya’ menjadi tercela dalam agama bukan karena orang itu gila hormat,  tetapi karena orang orang yang riya’ itu merasa tidak cukup dengan amal kebaikannya diketahui oleh Allah SWT. (Redaksi/KMP)